Minggu, 13 Agustus 2017

ANALISIS TANAH PADA LAHAN REKLAMASI LAHAN PASCA TAMBANG BATU BARA PT NUSANTARA BERAU COAL KABUPATEN BERAU



OLEH :

M. ANDRIANSYAH dan M. FAJRI

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. A.W. Syahranie, No. 68, Sempaja, Samarinda, Telp. (0541) 206364, Fax (0541) 742298
Email: andriansyah210475@gmail.com/fajririmbawan@gmail.com

Prosiding Ekspos Hasil-hasil Penelitian Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa tahun 2016


ABSTRAK
Akibat dari pertambangan batubara yang menggunakan sistem tambang terbuka akan memberi dampak kerusakan bagi tanah yaitu tanah akan memadat, minimnya kandungan unsur hara, potensi keracunan mineral, miskinnya bahan organik, status KTK yang rendah, dan minimnya populasi dan aktivitas mikroba tanah potensial. Oleh sebab itu sangat diperlukan sebuah analisa tanah sebelum melakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan pasca dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah sebelum dilakukan kegiatan reklamasi atau revegetasi lahan pasca tambang tersebut. Penelitian ini dilakukan di PT Nusantara Berau Coal, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan yang dilakukan meliputi survey awal lokasi penelitian, dan pengambilan sampel tanah. Plot penelitian dibagi menjadi 2 plot dengan masing-masing luas sebesar 2,5 hektar. Hasil uji sampel tanah menunjukkan bahwa data hasil uji tanah pada plot 1 Carbon Organic (rendah-sangat rendah), K+ (rendah), Mg2+ (rendah), KTK (rendah), Kejenuhan Basa (rendah), Nitrogen total (sangat rendah), P tersedia (sangat rendah), Na+ (sangat rendah), Ca2+ (Sangat Rendah) dan kondisi pH tanah tergolong sangat masam. Hasil uji tanah pada plot 2 tidak berbeda jauh dengan plot 1, untuk Carbon Organic (rendah), P tersedia (rendah-sangat rendah), Na+(rendah-sangat rendah), K+(rendah), Kejenuhan Al (Rendah), Nitrogen total (sangat rendah), KTK (sangat rendah), dan Kejenuhan Al  (Sangat Rendah) dan kondisi pH tanah (masam - Sangat Masam). Kesimpulan kondisi tanah pada 2 plot penelitian berada pada kondisi yang tidak subur.
Kata kunci : analisis tanah, reklamasi lahan,tambang, batubara

Jumat, 11 Agustus 2017

STUDI IKLIM MIKRO DAN TOPOGRAFI PADA HABITAT PARASHOREA MALAANONAN MERR (STUDY OF MICROCLIMATE AND TOPOGRAPHY AT PARASHOREA MALAANONAN MERR HABITAT)

M. Fajri dan Ngatiman

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa 
Jl. AW. Syahranie No.68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

Jurnal Ekosistem Hutan Dipterokarpa Volume I No 1 tahun 2017


ABSTRAK
Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi iklim mikro dan topografi pada habitat Parashorea malaanonan Merr di hutan alam. Metode penelitian sebagai berikut:1. Lokasi penelitian di KHDTK Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur dan Tane Olen, Desa Setulang kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. 2. Penentuan plot menggunakan metode Purposive Sampling. Plot penelitian berbentuk bujur sangkar dengan luas 1 hektar; 3. Data berupa: a. Data iklim mikro, yaitu suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya; b. Data topografi; 4. Analisis Data: Data lapangan akan ditabulasi dan di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian :1. Intensitas cahaya: a. Pada plot 1 KHDTK Labanan, intensitas cahaya pagi hari rata-rata 21,28% (425,3Lm), siang hari rata-rata 29,63% (592,3Lm) dan sore hari rata-rata 19,73% (394,3Lm); b. Pada plot 2 Tane olen, Desa Setulang, intensitas cahaya pagi hari rata-rata 20,04% (400,67Lm), siang rata-rata 23,46% (469Lm) dan sore hari rata-rata sekitar 12,52% (250,33Lm). 2. Suhu dan kelembaban: a. Pada plot 1, pagi hari, suhu lingkungan rata-rata 23,8°C, siang hari rata-rata 26°C dan sore hari rata-rata 24,2°C. untuk kelembaban udara pada pagi rata-rata 84%, siang hari rata-rata sekitar 84,7% dan sore hari rata-rata sekitar 86,7%; b. Untuk suhu dan kelembaban pada plot 2, pada pagi hari suhu lingkungan rata-rata sekitar 24,5°C, siang hari rata-rata 25,67°C dan sore hari rata-rata 24,17°C. Untuk kelembaban udara pada pagi hari rata-rata 80%, siang hari rata-rata 80% dan sore hari rata-rata 85,33%. 3. Untuk topografi: a. Pada plot 1, topografi antara 0 % s/d 110 %, dengan komposisi sebagai berikut : datar/flat (0-8 %) 2,69 %, landai/lower slope (8-15 %) 9,42 %, agak curam/mid slope (15-25 %) 2,76 %, curam/steep (25-40 %) 40,91 % dan sangat curam/upper steep (> 40 %) 23,22 %;b. Untuk topografi plot 2, kelerengen lahan antara 0 s/d 50 %, dengan komposisi : datar/flat (0-8 %) 19,27 %, landai/lower slope (8-15 %) 28,78 %, agak curam/mid slope (15-25 %) 25,54 %, curam/steep (25-40 %) 19,33 % dan sangat curam/upper steep (> 40 %) sekitar 7,07 %. Jenis P. malaanonan menyukai habitat dipinggir sungai dengan topografi yang datar dan landau dan kondisi iklim mikro yang baik sehingga mendukung pertumbuhan mereka.
Kata Kunci : Parashorea malaanonan, iklim mikro, topografi

ABSTRACT
This study aims to determine the conditions of the microclimate and topography at habitat Parashorea malaanonan Merr in natural forests. The research method as follows: 1. the research location in KHDTK Labanan, Berau District, East Kalimantan and Tane Olen, Setulang village, Malinau district, North Borneo; 2. Determination plot using purposive sampling method. form of research plots is Squares with an area of 1 hectare; 3. Collecting data in the form of: a. micro climate data, such as temperature, humidity, light intensity; b. topographic data; 4. Data analysis: data will be tabulated and analyzed descriptively. Research result : 1. For light intensity: a. at the plot 1 KHDTK Labanan, the average intensity of light in the morning  of 21.28% (425,3Lm), at noon on average 29.63% (592,3Lm) and at the afternoon average 19.73% (394,3Lm); b. at plot 2, in Tane olen, Setulang village, the average of  intensity of light in the morning 20.04% (400,67Lm), at noon on average  23.46% (469Lm) and at the afternoon average  12.52 % (250,33Lm). 2. For temperature and humidity: a. at plot 1, in the morning, the average temperature of 23.8°C, at noon, average  26°C and at the afternoon an average of 24.2°C. humidity in the morning, the average of 84%, at noon, average 84.7% and at the afternoon, average 86.7%; b. For the temperature and humidity at plot 2, in the morning of the average temperature of about 24.5°C, at noon, average 25.67°C and at the afternoon an average of 24.17°C. For the humidity, in the morning, average 80%, at noon, average of 80% and at the afternoon, average 85.33%. 3. For topography: a. at plot 1, have topography between 0% - 110%, with  composition as follows:  flat category(0-8%)  2.69%, ramps  (8-15% ) 9.42%,  rather steep (15-25%)  2.76%, steep (25-40%)  40.91% and  very steep  (> 40% )  23.22%; b. For topographical at plot 2, have topography between 0 - 50%, with  composition as follows:  flat category (0-8%) 19.27%, ramps ( 8-15%) 28.78%,  rather steep (15-25%) 25.54%,  steep (25-40%)  19.33%, and very steep (> 40%)7.07%. P. malaanonan favor riverside habitats with flat topography and good climatic conditions so as to support their growth
Kata Kunci : Parashorea malaanonan, iklim mikro, topografi

Selasa, 13 Juni 2017

POLA PEMANENAN BUAH TENGKAWANG (Shorea machrophylla) DAN REGENERASI ALAMINYA DIKEBUN MASYARAKAT (Harvesting Patterns of Tengkawang (Shorea machrophylla) and Its Natural Regeneration in Community’s Garden)

Muhammad Fajri & Andrian Fernandes

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahranie No.68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

JURNAL Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol. 1 No. 2, Desember 2015 : 81 - 88

ABSTRAK
Pemungutan buah tengkawang banyak dilakukan masyarakat di populasi alaminya, baik di kebun masyarakat, hutan adat maupun di hutan alam. Kenyataan yang dihadapi sekarang adalah adanya eksploitasi yang mengancam keberadaan pohon penghasil tengkawang. Permasalahan yang kedua adalah apakah selama ini masyarakat memanen biji tengkawang tersebut secara lestari, sehingga kedepannya keberadaan buah tengkawang tetap ada dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dari masyarakat tentang  cara pemanenan buah, produktivitas pohon dan permudaan yang ada di areal penghasil tengkawang di Kabupaten Sanggau. Metode pengumpulan data di dilapangan yaitu :1. wawancara dengan pemilik pohon tengkawang; 2. Pembuatan plot pada setiap pohon yang berbuah; 3. inventarisasi tingkat semai, pancang, tiang dan pohon tengkawang.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanenan buah tengkawang terjadi pada bulan Desember, Januari, Pebruari dan diperkirakan berakhir di bulan Maret. Masa pembungaannya dimulai pada bulan Nopember, Desember dan Januari. Pemanenan buah tengkawang masih dilakukan secara tradisional. Untuk produksi rata-rata 206,14 kilogram buah/pohon. Untuk tingkat regenerasi alami yang paling banyak ditemukan adalah tingkat semai.
Kata  kunci : Tengkawang, Pemanenan, regenerasi alami

ABSTRACT
Harvesting of tengkawang fruit is mostly carried out by people from  natural stands, whether in the community’s gardens, customary  forests or natural  forests. Fact in the field indicated that over  exploitation has  threatened the existence of  tengkawang trees. The second problem is whether these communities harveting ways of tengkawang seed so far is  it in a sustainable manner, so that  the fruit production of  tengkawang could be maintained in the future. The objective of this study is to find  information from the community about the way of  harvesting the fruit, the productivity of the tengkawang trees and the regeneration of existing trees in the tengkawang producing area at Sanggau District. The steps  of data collection in the field were: 1. interviewing the owner of the tengkawang trees; 2. establishing plots
on the area where tengkawang tree found bearing fruits, and 3. inventoring  seedlings, saplings, poles and trees of tengkawang found in the plots. Results showed that the harvesting period of tengkawang fruits occurred in December, January, February and predicted will be  end in March. Period of flowering starts in November, December and January. Harvesting  tengkawang fruit was still done traditionally. Productivity of the tree is  206.14 kg of fruits / tree. Seedlings is the most commonly found in  natural regeneration.
Keywords: Tengkawang, harvesting, natural regeneration

ANALISIS VEGETASI TENGKAWANG DI KEBUN MASYARAKAT KABUPATEN SINTANG, KALIMANTAN BARAT (Vegetation Analysis of Tengkawang in Community Garden Sintang District, West Kalimantan)

Muhammad Fajri & Supartini

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahranie No.68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

JURNAL Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol. 1 No. 2, Desember 2015 : 55 - 62

ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk menganalisis vegetasi Tengkawang dan jenis-jenis lain dalam interaksinya di kebun
masyarakat khususnya Dusun Tem’bak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pembuatan plot secara purposive sampling seluas 2,16 ha pada 3 topografi (lembah, lereng, bukit). Hasil penelitian  menunjukkan bahwa di kebun masyarakat ditemukan 139 jenis yang terdiri dari 3 jenis Tengkawang (Shorea macrophylla, S. stenoptera, S. beccariana) dan 136 jenis lain bukan Tengkawang. 10 jenis tanaman dengan jumlah terbanyak yaitu Karet (Hevea braziliensis), Tengkawang putih (Shorea macrophylla), Tengkawang merah (Shorea stenoptera), Tikalung, Durian (Durio spp), Medang (Litsea sp.), Gerunggang (Cratoxylum spp.), Umpang, Pinang (Areca catechu) dan Laban (Vitex pubescens). S. macrophylla dan Karet adalah jenis Tengkawang dan bukan Tengkawang yang mendominasi di kebun masyarakat. INP tertinggi untuk jenis Tengkawang terdapat pada topografi lembah, sedangkan INP tertinggi untuk Karet terdapat pada topografi bukit. Kebun masyarakat memiliki keragaman dan kemerataan jenis yang tergolong tinggi, sedangkan pada tiap topografi memiliki keragaman jenis yang sedang dan kemerataan jenis yang tinggi.
Kata kunci: analisis vegetasi, Tengkawang, INP, keragaman, kemerataan jenis

ABSTRACT
The study aims to analyze vegetation of Tengkawang and other spesies with its interactions in community garden, especially in Tem’bak, Sintang District, West Kalimantan. Plot area of 2.16 ha made in purposive sampling at 3 topography (valleys, hillside, hill). The results showed that in community garden has 139 species consist of 3 spesies of Tengkawang (Shorea macrophylla, S. stenoptera, S. beccariana) and 136 other spesies not Tengkawang. 10 of plants spesies have highest number were Rubber (Hevea braziliensis), white Tengkawang (Shorea macrophylla), red Tengkawang (Shorea stenoptera), Tikalung, Durian (Durio spp), Medang (Litsea sp.), Gerunggang (Cratoxylum spp.), Umpang, Pinang (Areca catechu) and Leban (Vitex pubescens). S. macrophylla and Rubber were Tengkawang and not Tengkawang spesies which dominates in community garden. The Highest of INP Tengkawang spesies contained in valley, while the highest of  Rubber spesies contained in hill. Community gardens have diversity and evenness spesies were relatively high, while on each topography has medium of diversity spesies and high of evenness spesies.
Keywords: Vegetation analysis, Tengkawang, INP, diversity, evenness spesies

POTENSI TENGKAWANG DI KEBUN MASYARAKAT DUSUN TEM’BAK, SINTANG, KALIMANTAN BARAT (Potency of Tengkawang in Community Garden of Tem’bak Hamlet, Sintang, West Kalimantan)

Supartini & Muhammad Fajri

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: tini_b2pd@yahoo.com, fajririmbawan@gmail.com

JURNAL Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol. 1 No. 1, Juli 2015 : 7 - 14

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tengkawang di kebun masyarakat sehingga pengelolaan tengkawang dapat dilakukan secara lestari. Pengukuran potensi tengkawang dilakukan dengan pembuatan plot seluas 2,16 ha atau 54plot pada 3 topografi yaitu di lembah 27 plot, lereng 14 plot dan bukit 13 plot di Dusun Tem’bak, Desa Gurung Mali,Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tengkawang yang terdapat di kebun masyarakat berjumlah 93 pohon atau memiliki kerapatan 43,06 pohon/ha dan jenis yang ditemukan yaitu Shorea macrophylla, S. stenoptera dan S. beccariana. Rataan potensi luas bidang dasar dan volume kayu ketiga jenis tengkawang yaitu 0,29 m2 dan 2,67 m3. Pohon tengkawang di lembah memiliki luas bidang dasar dan volume kayu yang lebih besar dibandingkan dengan pohon tengkawang di lereng dan bukit. Potensi S. stenoptera dari luas bidang dasar berbeda nyata dengan S. macrophylla dan S. beccariana, sedangkan potensi volume kayu ketiga jenis ini tidak berbeda nyata. Kelima kelas diameter tegakan tengkawang memiliki luas bidang dasar dan volume kayu yang berbeda nyata. S. macrophylla ditemukan di lembah, lereng dan bukit. S. stenoptera terdapat di lembah dan lereng. S. beccariana ditemukan hanya di bukit. Potensi tegakan tengkawang di kebun masyarakat masih tinggi untuk dikelola secara lestari.
Kata kunci: Tengkawang, potensi tegakan, sebaran

ABSTRACT
The aims of this study was determined potency of Tengkawang in community gardens so that it can be naged
sustainably. Tengkawang potential assesment had done by making the plot area of 2,16 ha or 54 plots in 3 topography namely at valley 27 plot, hillside 14 plot and hill 13 plot in Tem’bak Hamlet, Gurung Mali village, Tempunak Sub district, Sintang, West Kalimantan. The result showed that community gardens contained 93 trees or it has density of 43,06 tree/ha consist of Shorea macrophylla, S. stenoptera and S. beccariana. Mean potential of basal area and timber volume were 0.29 m2 and 2.67 m3. Basal area and timber volume of tengkawang trees in the valley had greater than tengkawang trees in hillside and hill. Basal area of S. stenoptera was significantly different than S. macrophylla and S. beccariana, while timber volume of third spesies were not significantly different. The fifth of tengkawang diameter class had basal area and timber volume significantly different. S. macrophylla was found in valley, hillside and hill. S. stenoptera was found in valley and hillside. S. beccariana was found only in the hill. Standing stock of tengkawang in community garden still high for sustainable utilization.
Keywords: Tengkawang, standing stock, distribution

Minggu, 06 September 2009

PERLUNYA SISTEM KELEMBAGAAN YANG BAIK DALAM MENUNJANG PELAKSANAAN REDD

Oleh
Karmilasanti dan M. Fajri

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

Abstrak
Kelembagaan merupakan suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antara manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal atau informal untuk pengendalian perilaku sosial serta intensif untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama. REDD ( Reduction Emission from Deforestation and forest Degradation) adalah upaya menurunkan emisi melalui penurunan laju kerusakan hutan dan kegiatan penyimpanan karbon dari pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Dalam pelaksanaan REDD sangat diperlukan suatu sistem kelembagaan yang baik,. Sistem kelembagaan yang baik tersebut harus didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut : 1. Adanya Kebijakan yang mendukung; 2. Adanya Lembaga Pelaksana REDD;3. Adanya sumber daya (sumberdaya manusia, modal, tempat, dan Anggaran); dan kerjasama antar lembaga terkait (Pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, swasta, dan masyarakat).
Kata Kunci : Sistem, Kelembagaan, REDD

MODEL HUBUNGAN KELEMBAGAAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA

M. Fajri dan Lidya Suastati

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com
Abstrak
Kelembagaan merupakan suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antara manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atatu jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal atau informal untuk pengendalian perilaku sosial serta intensif untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama. Dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang diperlukan adanya suatu hubungan antar kelembagaan yang solid agar pelaksanaan reklamasi lahan bekas tambang bisa dilaksanakan sehingga tercapai tujuan bersama untuk memperbaiki kondisi lahan bekas tambang seperti semula. Dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang ada 3 model hubungan kelembagaan yang bisa di gambarkan yaitu : Model pertama adalah semua lembaga dilibatkan dalam kegiatan ini, perusahaan tambang melibatkan masyarakat dalam kegiatan reklamasi. Cuma kelemahannya disini adalah pemerintah yang kurang perhatian terhadap kehidupan masyarakat sekitar hutan. Model kedua adalah yang terlibat hanya pihak pemerintah dan perusahaan tambang saja, sedangkan masyarakat sekitar tambang sama sekali tidak dilibatkan, dan beresiko hanya menerima efek negatif saja dari dampak kegiatan pertambangan batubara. Dan yang ketiga adalah semua pihak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang batubara dan adanya peranan pemerintah dalam mengangkat kesejahteraan masyarakat disekitar tambang. Kesimpulan dari tulisan ini adalah Model hubungan antara kelembagaan yang ada sekarang ini banyak terdapat kelemahan-kelemahan, serta kurangnya perhatian pihak perusahaan tambang batubara dan pemerintah terhadap kehidupan masyarakat sekitar pertambangan batu bara.
Kata Kunci : Model, Kelembagaan, Reklamasi, Tambang Batubara

Tema Terbaru

 Model Kampung Iklim Plus di Provinsi Kalimantan Timur  Berdasarkan Karakteristik Hutan Dan Lahan Penulis: M. Fajri Ady Iskandar Rina Wahyu ...

postingan populer