Minggu, 22 Maret 2009

Kajian Kelembagaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara


 M. Fajri
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan  Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

Abstrak
Hingga saat ini kelembagaan dalam pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang belum berjalan sebagai mestinya baik untuk tataran pusat maupun daerah sehingga mekanisme dalam pengelolaannya, masing-masing stakeholder melaksanakan tupoksinya sendiri-sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang, serta tugas dan fungsi masing-masing instansi, mekanisme/prosedur pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang, mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang ditingkat propinsi/kabupaten (peraturan, organisasi, SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pelaksaan pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang tersebut. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan yang ada tentang reklamasi lahan bekas tambang terhadap perencanaan dan jaminan reklamasi sudah cukup ideal bagi perusahaan pertambangan, tetapi kebijakan mengenai aspek tekhnik reklamasi lahan bekas tambang termasuk penilaian keberhasilan reklamasi masih perlu dikaji kembali terkait dengan karakteristik lahan area tambang. Ada 4 (Empat) lembaga yang terlibat secara langsung dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang batubara, yaitu : 1. Lembaga Perencana; 2. lembaga Pelaksana; 3. lembaga pengawas; 4. Desa-desa sekitar lokasi pertambangan batubara. PT. Berau Coal secara umum telah melaksanakan tahapan-tahapan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang batubara. Tahapan-tahapan Kegiatan tersebut adalah penyiapan lahan, pengaturan bentuk lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, pengelolaan tanah pucuk, revegetasi dan pemeliharaan tanaman. Dalam mendukung pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang batubara, PT. Berau Coal melakukan kerjasama dengan Lembaga desa Sekitar lokasi pertambangan dan lembaga Riset serta perguruan tinggi. Persepsi masyarakat terhadap hutan secara umum adalah bahwa hutan merupakan sumber kehidupan bagi mereka. Mereka juga mendukung keberadaan perusahaan tambang di wilayah mereka karena bisa mengangkat kehidupan sosial ekonomi desa-desa sekitar tambang. Tapi mereka juga mengetahui efek negatif dari kegiatan pertambang batubara dan sangat mendukung adanya kegiatan reklamasi lahan bekas tambang batubara.

Kata Kunci : Kelembagaan, Tambang, Reklamasi

Selasa, 06 Januari 2009

PULAU BORNEO (KALIMANTAN) SALAH SATU PUSAT KEANEKARAGAMAN HAYATI DUNIA

PULAU BORNEO (KALIMANTAN) SALAH SATU PUSAT KEANEKARAGAMAN HAYATI DUNIA

OLEH
M. FAJRI

BALITBANGHUT KALIMANTAN

Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com

Pendahuluan

Dua pertiga dari semua jenis kehidupan terdapat didaerah trofis dan banyak diantaranya yang hanya terdapat didalam hutan basah (Myer,1986;Raven,1986). Pulau Borneo (Kalimantan) mendukung hutan basah trofis terluas dikawasan indomalaya, dan merupakan pusat utama penyebaran banyak marga flora malesia dan fauna indomalaya. Tipe-tipe hutan mencakup hutan bakau, hutan rawa gambut yang luas dan hutan rawa air tawar, hutan kerangas yang terluas dikawasan indomalaya, hutan dipterocarpaceae dataran rendah, hutan batu kapur, dan berbagai formasi hutan pegunungan. Habitat yang sangat kaya ini mendukung keragaman jenis yang tinggi.
Pulau Borneo sangat kaya akan flora dan fauna. Pulau ini merupakan unit terkaya dalam subkawasan sunda dengan keragaman jenis pohon yang tinggi dalam petak kecil seperti di Papua dan Amerika Selatan. Kekayaan jenis tumbuhan yang sangat besar dalam hutan basah dataranj rendah digambarkan dengan baik melalui penghitungan lebih dari 700 jenis pohon yang berbeda dari sepuluh petak pilihan masing-masing luasnya satu hektar diserawak (Wilson,1988). Dengan 287 jenis dipterocarpaceae (155 jenis endemik) pulau Borneo merupakan pusat keragaman untuk suku dipterocarpacea (Ashton,1982). Pulau Borneo yaitu penghasil kayu komersil terbesar dan merupakan sebagian besar ekspor dari Kalimantan, Sabah, dan Serawak.
Pulau Borneo secara keseluruhan merupakan pusat utama keragaman hayati dan kawasan prioritas konservasi. Seluruh pulau Borneo menempati 0,2 % luas daratan bumi tetapi satu diantara 25 jenis tumbuhan yang dikenal dan satu dianta 20 jenis burung dan mamalia terdapat disini. Pulau ini sangat penting karena kekayaan jenis dan endemismenya sangat tinggi. Tingkat endemisme flora juga tinggi yaitu 34 % jenis tumbuhan, dan 59 marga hanya terdapat disini (mackinnon dan Mackinnon,1986). Pulau Borneo memiliki 37 jenis burung endemik (Mackinnon dan Philips, 1993), dan 44 jenis mamalia darat endemik (Mackinnon,1990a)

HANCURNYA HUTAN INDONESIA SIAPA YANG SALAH ?

HANCURNYA HUTAN INDONESIA
SIAPA YANG SALAH ?

OLEH
M. FAJRI

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com


Abstrak

Sebagai salah satu dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90 persen hutan di dunia, Indonesia meraih tingkat laju penghancuran hutan alam tercepat antara 2000 – 2005, yakni dengan tingkat 1,871 juta hektar atau sebesar 2 persen setiap tahun atau 51 kilometer persegi per hari, atau setara dengan 300 lapangan bola setiap jamnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan hutan di Indonesia tersebut adalah kebijakan pemerintah yang salah terhadap pengelolaan hutan, pengelolaan hutan yang kurang benar oleh hak pengusahaan hutan, terjadinya illegal logging yang tersistem, otonomi daerah yang salah kaprah dan pengalihan fungsi hutan menjasi kawasan tambang. Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh pemerintah yaitu 1.Tidak lagi mengeluarkan ijin-ijin baru pengusahaan hutan, pemanfaatan kayu maupun perkebunan, serta melakukan penegakan hukum terhadap pelaku ekspor kayu bulat dan bahan baku serpih, 2.Melakukan uji menyeluruh terhadap kinerja industri kehutanan dan melakukan penegakan hukum bagi industri yang bermasalah, 3.Melakukan penataan kembali kawasan hutan yang rusak dan juga menangani dampak sosial akibat penghentian penebangan hutan, 4.Setelah tertata kembali sistem pengelolaan hutan, maka pemberian ijin penebangan kayu hanya pada hutan tanaman atau hutan yang dikelola berbasiskan masyarakat lokal, 5.Selama penghentian sementara (moratorium) dijalankan, industri-industri kayu tetap dapat jalan dengan cara mengimpor bahan baku kayu, 6.Bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam melakukan pemberantasan Illegal Logging dan 7.Mengembalikan kedaulatan rakyat dalam pengelolaan hutan, karena rakyat Indonesia sejak lama telah mampu mengelola hutan Indonesia.

Kata Kunci : Hutan, Hancur, Indonesia

HUTAN, HAK PENGUSAHAAN HUTAN, MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DAN INTERAKSI TIMBAL BALIKNYA


M. Fajri

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan  Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com

Abstrak
Hutan menurut undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Hak Pegusahaan hutan adalah suatu unit usaha yang bergerak dibidang kehutanan yang mendapat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada hutan alam yang diberikan oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan. Masyarakat sekitar hutan adalah masyarakat yang tinggal disekitar hutan dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kawasan hutan yang melingkupinya. Ada 3 interaksi terhadap hutan yaitu interaksi antara hutan dan Masyarakat sekitar hutan, interaksi antara hutan dan hak pengusahaan hutan, interaks antara hak penusahaan hutan dan masyarakat sekitar hutan. Interaksi antara hutan sebagai penyedia sumber daya dan masyarakat sekitar hutan/hak pengusahaan hutan sebagai pengelola sumber daya hutan bisa saling menguntungkan jika masyarakat sekitar hutan dan hak pengusahaan hutan berpikir positif terhadap hutan dengan segala fungsinya, bagaimana mereka mengelola hutan secara benar sehingga hutan tetap memberikan sumber dayanya secara berkelanjutan dan lestari.

Kata kunci : Hutan, Interaksi, HPH, Masyarakat sekitar hutan.

Senin, 08 Desember 2008

EKSPLORASI TANAMAN OBAT-OBATAN PADA EKOSISTEM HUTAN DIPTEROCARPACEAE LUBUK BAJI TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG

EKSPLORASI TANAMAN OBAT-OBATAN PADA EKOSISTEM HUTAN DIPTEROCARPACEAE LUBUK BAJI TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG

OLEH
M. FAJRI dan Tim

BALITBANGHUT KALIMANTAN

Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com

ABSTRAK

Dewasa ini masyarakat mulai kembali kealam dalam penggunaan obat-obatan. Hal ini disebabkan mahalnya obat-obatan kimia serta efek samping yang diakibatkannya, sedangkan obat-obatan tradisional biayanya murah, mudah didapatkan dan tanpa efek samping. Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sebagai salah satu kawasan alam di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tersebut, termasuk tumbuhan-tumbuhan hutan yang memiliki khasiat obat. Pengambilan sampel tanaman obat yang dilakukan di Lubuk Baji menggunakan cara random, pada dua tempat yaitu Batu Bulan dan bukit yang berhadapan dengan Batu Bulan. Dua bukit tersebut mewakili antara tipe hutan sekunder (Batu Bulan) dan hutan primer. Dari eksplorasi tanaman obat di daerah Lubuk Baji, ditemukan ± 16 tanaman obat yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar lokasi tersebut. Dengan adanya pengenalan terhadap jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi TNGP sebagai sumber plasma nutfah yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat sehingga ikut menjaga kelestariannya.

Kata Kunci : Eksplorasi, tanaman Obat.

EKSPLORASI TIKUS HUTAN DI LUBUK BAJI TN. GUNUNG PALUNG KALBAR

EKSPLORASI TIKUS HUTAN
DI LUBUK BAJI TN. GUNUNG PALUNG KALBAR

OLEH
M. FAJRI

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail:  fajririmbawan@gmail.com

Abstract
To investigate the potential of mammalians species in Taman Nasional Gunung Palung,West Kalimantan an exploration of small mammalians i.e. ’tikus hutan’(Rattus) species, was conducted. The exploration activity of Rattus was conducted in Lubuk Baji, TNGP. The purpose of the exploration was to study the existence of Rattus species in the area, as well as collecting specimen and creating terrarium. The exploration found 5 (five) species of tikus huta (Rattus), i.e. Maxomys surifer, M. rajah, and M. witheadi, Leopoldamus sabanus, and Sundamys muelleri. Specimens was collected only from Maxomys surifer and Leopoldamys sabanus. Terrarium as miniature oft habitat was created for those species.,

Keyword : Exploration, tikus hutan (Rattus), Lubuk Baji

PENGENALAN UMUM DIPTEROCARPACEAE, KELOMPOK JENIS BERNILAI EKONOMI TINGGI


M. Fajri
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan  Dipterokarpa
Jl. AW. Syahrani No.68, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
e-mail: fajririmbawan@gmail.com

Ringkasan
Dipterocarpaceae merupakan jenis tumbuh-tumbuhan yang mendominasi hutan primer dataran rendah di Asia Tenggara dan Afrika. Penyebaran dipterocarpaceae ini dipengaruhi oleh faktor iklim, ketinggian tempat, geologi dan tanah. Famili Dipterocarpaceae lebih kurang berjumlah 512 spesies dalam 16 marga/genera dan 3 subfamili. Pengenalan jenis dari famili Dipterocarpaceae bisa melalui pengenalan marga, suku dan pengenalan perbungaan, biji, anakan dan pohonnya. Famili Dipterocarpaceae merupakan jenis kayu yang bernilai ekonomi tinggi. Famili Dipterocarpaceae selain menghasilkan kayu juga menghasilkan produk non kayu berupa minyak keruing, damar, lemak tengkawang, kapur barus dan tanin.
Kata kunci : Pengenalan, Dipterocarpaceae, Kelompok Jenis, Ekonomi

Tema Terbaru

 Model Kampung Iklim Plus di Provinsi Kalimantan Timur  Berdasarkan Karakteristik Hutan Dan Lahan Penulis: M. Fajri Ady Iskandar Rina Wahyu ...

postingan populer