Senin, 01 Juni 2020

TEKNIK REHABILITASI LAHAN PASCA TAMBANG GALIAN GOLONGAN C DI KHDTK LABANAN KABUPATEN BERAU

TEKNIK REHABILITASI LAHAN PASCA TAMBANG GALIAN GOLONGAN C
DI KHDTK LABANAN KABUPATEN BERAU
dalam Buku Bunga Rampai
PENGELOLAAN LINGKUNGAN KEHATI UNTUK PEMANFAATAN BERKELANJUTAN

Muhammad Fajri
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa, Jl. A.W. Syahranie No.68 Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia Telp. (0541) 206364, Fax. (0541) 742298


Abstrak
     Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan galian (tambang). Bahan galian tersebut meliputi emas, perak, tembaga, minyak dan gas bumi, batu bara, dan lain-lain. Bahan galian ini dikuasai oleh negara dan negara berwenang untuk mengatur, mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan bahan galian, serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat (Asril, 2014). Sektor pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa. Selain mendatangkan devisa, industri pertambangan
juga menyedot lapangan kerja serta sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten dan Kota (Yudhistira, 2011).
   Salah satu jenis pertambangan adalah galian golongan C. Pertambangan galian golongan C merupakan pertambangan yang tidak strategis dan tidak vital (UU No. 11 tahun 1967). Kebutuhan akan bahan galian golongan C seperti pasir, tanah serap, dan krikil sangat diperlukan untuk pembangunan sarana fisik berupa gedung, jembatan jalan dan pembangunan, serta kegiatan industri. Beraneka bahan tambang galian golongan C tersedia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri (Harmayanti, 2016).
     KHDTK Labanan merupakan kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 121/Menhut-II/2007 tanggal 2 April 2007 tentang Penunjukkan Kawasan Hutan Produksi Tetap seluas ± 7.900 ha di Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur (Susanty, 2015). Di dalam kawasan ini banyak terdapat perbukitan batu padas yang berpotensi menjadi bahan baku tambang galian golongan C, akses ke kawasan ini sangat mudah karena merupakan jalan poros Samarinda - Berau. Kebutuhan batu padas untuk bahan bangunan yang besar dari Labanan dan sekitarnya membuat pemodal yang melihat potensi ini tertarik untuk melakukan kegiatan penambangan batu padas di dalam kawasan. Hal ini didukung oleh masyarakat sekitar hutan yang butuh pekerjaan serta pengawasan yang kurang terhadap kawasan tersebut. Akibatnya saat ini di beberapa lokasi dalam kawasan telah terjadi dan terdapatlahan bekas pertambangan galian golongan C.
     Menurut PP Nomor 76 (2008), rehabilitasi hutan dan lahan adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi DAS sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga. Sedangkan revegetasi adalah upayauntuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan.Tujuan dari revegetasi akan mencakup re-establishment komunitas tumbuhan secara berkelanjutan untuk menahan erosi dan aliran permukaan, perbaikan biodiversitas dan pemulihan estetika lanskap. Pemulihan lanskap secara langsung menguntungkan bagi lingkungan melalui perbaikan habitat hewan, biodiversitas, produktivitas tanah dan kualitas air (Setiadi, 2006).
     Makalah ini memaparkan kegiatan teknik rehabilitasi lahan pasca tambang galian golongan C yaitu pembuatan plot rehabilitasi, analisis vegetasi yang tumbuh alami, pengambilan data iklim mikro, penyiapan bibit, kegiatan penanaman, kegiatan pengukuran awal, kegiatan pemeliharaan plot, dan kegiatan pemeliharaan/pengukuran ulang plot. Diharapkan informasi yang tersedia dapat digunakan sebagai iptek rehabilitasi lahan pasca tambang bahan galian golongan C dalam rangka restorasi lingkungan (uji jenis pionir, uji jenis dipterokarpa dan teknik perbaikan kondisi tanah).


Tidak ada komentar:

Tema Terbaru

 Model Kampung Iklim Plus di Provinsi Kalimantan Timur  Berdasarkan Karakteristik Hutan Dan Lahan Penulis: M. Fajri Ady Iskandar Rina Wahyu ...

postingan populer